Kisah Perjuangan Vicky Shu Mengembalikan Suara Emas: Dari Trauma Pasca Melahirkan Hingga Terapi Freediving
RadarLokal — Dunia hiburan tanah air seringkali hanya memperlihatkan gemerlap panggung dan senyum manis para bintangnya. Namun, di balik lampu sorot yang terang, terdapat perjuangan personal yang jarang terungkap ke publik. Salah satu kisah inspiratif datang dari penyanyi berbakat, Vicky Shu. Pelantun tembang hits ini baru-baru ini membuka tabir mengenai cobaan berat yang ia alami setelah menjalani proses persalinan, sebuah fase di mana ia nyaris kehilangan aset berharganya sebagai seorang seniman: suaranya.
Kehilangan kemampuan untuk bernyanyi adalah mimpi buruk bagi setiap vokalis. Bagi Vicky, hal ini bukan sekadar penurunan kualitas sesaat, melainkan sebuah perubahan drastis yang membuatnya tidak mampu mencapai nada-nada tinggi yang selama ini menjadi ciri khas penampilannya. Dalam sebuah kesempatan berbincang hangat di kawasan Jakarta Selatan, Vicky menceritakan bagaimana dinamika emosional dan fisik yang ia alami saat menyadari bahwa suaranya tidak lagi sama seperti sedia kala.
Goncangan Psikis dan Fisik Pasca Persalinan
Menjadi seorang ibu adalah anugerah, namun proses biologis yang menyertainya membawa perubahan besar pada tubuh wanita. Vicky Shu mengakui bahwa setelah melahirkan, ia merasakan ada sesuatu yang hilang dari kontrol pita suaranya. Fenomena ini membuatnya sempat merasa terpuruk, mengingat karir vicky shu dibangun di atas fondasi vokal yang kuat dan berkarakter.
“Aku setelah melahirkan sempat hilang suara. Suaraku tuh biasa nada tinggi nyanyi, ini benar-benar kayak turun gitu loh suaranya, jadi turun kualitasnya juga,” ungkap Vicky dengan nada reflektif saat ditemui di Studio Trans7, Warung Buncit, Jakarta Selatan. Kondisi ini bukan terjadi dalam hitungan hari atau minggu, melainkan menetap hingga satu tahun lamanya. Setahun tanpa kemampuan bernyanyi yang mumpuni tentu menjadi masa-masa yang penuh kegelisahan bagi seorang profesional di dunia tarik suara.
Ketidakmampuan mencapai register nada tinggi tersebut membuatnya harus menepi sejenak dari aktivitas rekaman maupun pertunjukan live yang menuntut teknik vokal prima. Penurunan kualitas vokal ini disinyalir berkaitan dengan perubahan hormon dan melemahnya otot-otot diafragma pasca operasi atau proses persalinan yang melelahkan secara fisik.
Freediving: Pelarian Ekstrem yang Menjadi Penyelamat
Di tengah keputusasaan tersebut, Vicky Shu menemukan jalan pulang menuju suaranya melalui cara yang tidak terduga. Bukan melalui terapi medis konvensional atau guru vokal ternama, melainkan melalui olahraga ekstrem yang ia cintai: freediving atau menyelam bebas tanpa alat bantu pernapasan. Siapa sangka, kedalaman air menjadi tempat ia menemukan kembali resonansi suaranya yang hilang.
Menurut penyanyi yang dikenal melalui lagu “Mari Bercinta 2” ini, teknik pernapasan dalam freediving memiliki korelasi yang sangat kuat dengan teknik vokal. Dalam olahraga ini, seseorang dituntut untuk mampu mengelola asupan oksigen secara efisien dan melatih kekuatan paru-paru serta diafragma pada level yang sangat dalam. Hal inilah yang secara tidak langsung merehabilitasi pita suara Vicky yang sempat melemah.
“Baliknya karena rajin latihan freediving. Freediving itu mengajarkan napas dan ketenangan. Gak boleh panik soalnya kalau freediving itu,” jelasnya lebih lanjut mengenai manfaat freediving bagi kesehatan organ pernapasannya.
Sains di Balik Pernapasan dan Kekuatan Vokal
Secara fisiologis, apa yang dialami Vicky Shu bukanlah sebuah kebetulan. Teknik pernapasan perut yang diaplikasikan saat menyelam membantu memperkuat otot-otot inti yang juga digunakan saat seorang penyanyi melakukan teknik support vokal. Saat berada di bawah air, ketenangan adalah kunci utama. Panik sedikit saja akan membuat detak jantung meningkat dan oksigen cepat habis.
Ketenangan yang dilatih dalam freediving membantu Vicky mengontrol otot-otot di sekitar leher dan tenggorokannya agar tidak tegang saat bernyanyi. Dengan melatih diafragma secara intensif di kedalaman air, ia secara perlahan membangun kembali fondasi kekuatan suaranya. Inilah yang kemudian mengembalikan jangkauan nada tinggi yang sempat hilang selama lebih dari satu tahun pasca melahirkan.
Proses pemulihan ini menjadi bukti nyata bahwa gaya hidup sehat yang dikombinasikan dengan hobi yang tepat dapat memberikan efek terapeutik yang luar biasa bagi tubuh manusia.
Kerinduan Kembali ke Kedalaman Laut
Meski sempat vakum cukup lama dari aktivitas menyelam karena kesibukannya mengurus buah hati yang masih kecil, semangat Vicky untuk kembali ke laut tidak pernah padam. Baginya, menyelam bukan hanya soal olahraga, tetapi juga bentuk meditasi dan rekoneksi dengan diri sendiri. Ia mengenang masa-masa di mana ia mampu menyelam hingga kedalaman belasan meter hanya dengan satu tarikan napas.
“Mau mulai lagi freediving. Freediving itu terakhir belasan, 16 meter lah kayaknya sampai dasar,” pungkasnya dengan penuh antusiasme. Angka 16 meter bukanlah pencapaian yang main-main bagi seorang penyelam bebas amatir, menunjukkan bahwa Vicky memiliki kapasitas paru-paru dan kontrol diri yang luar biasa.
Kini, dengan suara yang telah kembali pulih dan semangat yang baru, Vicky Shu siap untuk kembali meramaikan industri musik Indonesia. Kisahnya memberikan pelajaran berharga bagi banyak wanita di luar sana, bahwa tantangan fisik pasca melahirkan—seberat apa pun itu—bisa diatasi dengan ketekunan, ketenangan, dan menemukan aktivitas yang tepat untuk proses penyembuhan diri.
Menjaga Eksistensi di Tengah Peran Sebagai Ibu
Vicky Shu juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental bagi para ibu baru. Kehilangan identitas atau kemampuan profesional setelah melahirkan bisa memicu stres yang berdampak buruk pada kesehatan fisik. Dengan memilih olahraga seperti freediving, ia tidak hanya mendapatkan kembali suaranya, tetapi juga menjaga stabilitas emosionalnya melalui manajemen stres yang baik di bawah air.
Ke depannya, Vicky berharap bisa terus berkarya sekaligus menjalankan perannya sebagai ibu tanpa harus mengorbankan salah satunya. Baginya, kunci utama adalah keseimbangan antara hobi, karir, dan keluarga. Suara emas yang kini telah kembali adalah modal utamanya untuk terus berkarya dan memberikan inspirasi bagi para penggemarnya di seluruh tanah air.
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kadang kala, jawaban atas permasalahan yang kita hadapi ada di tempat yang paling tidak terduga—bahkan di kedalaman 16 meter di bawah permukaan laut.