Mendidik Karakter Sejak Dini: Strategi Atta Halilintar Kenalkan Makna Kurban dan Cinta Tuhan kepada Ameena dan Azura
RadarLokal — Momentum hari raya keagamaan selalu menjadi ruang yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual bagi buah hati. Hal inilah yang dilakukan oleh YouTuber kenamaan, Atta Halilintar, menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha. Suami dari Aurel Hermansyah tersebut tidak hanya sekadar menjalankan ritual tahunan membeli hewan kurban, melainkan juga menjadikannya sebagai sarana edukasi mendalam bagi kedua putrinya, Ameena Hanna Nur Atta dan Azura Humaira Nur Atta.
Bagi Atta, mengenalkan agama kepada anak-anak yang masih balita membutuhkan pendekatan yang kreatif sekaligus naratif agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik. Ia menyadari bahwa di usia dini, anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, sehingga penjelasan yang diberikan haruslah jujur namun tetap dalam bahasa yang mudah dimengerti.
Menelusuri Kisah Pengorbanan Nabi Ibrahim
Dalam sebuah kesempatan di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Atta membagikan pengalamannya saat bercerita kepada Ameena dan Azura tentang sejarah di balik ibadah Idul Adha. Ia memilih untuk mengangkat kisah sentral mengenai ketaatan Nabi Ibrahim AS dan ketulusan Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Sang Pencipta.
“Iya, aku menyampaikannya seperti ini. Tadi aku ceritakan dulu kalau di zaman Nabi dulu, berkurban itu bermula saat Nabi Ismail diperintahkan Tuhan untuk dikurbankan,” ujar Atta Halilintar dengan nada serius namun hangat. Cerita ini ternyata memicu reaksi yang cukup emosional bagi kedua anaknya. Menurut Atta, Ameena dan Azura sempat terkejut dan bertanya-tanya mengapa seorang ayah tega melakukan hal tersebut kepada anaknya sendiri.
Pertanyaan polos dari anak-anaknya itulah yang menjadi pintu masuk bagi Atta untuk menjelaskan filosofi cinta yang hakiki. Ia menjelaskan bahwa kisah tersebut bukanlah tentang kekejaman, melainkan tentang ujian cinta yang luar biasa. Ia ingin anak-anaknya memahami bahwa di dunia ini, tidak ada yang boleh menandingi besarnya cinta kepada Allah SWT.
Filosofi Melawan Rasa Cinta Berlebihan pada Dunia
Pelajaran utama yang ingin ditanamkan Atta adalah agar anak-anaknya tidak memiliki keterikatan yang berlebihan terhadap materi atau hubungan manusiawi yang melampaui batas spiritualitas. Dalam pandangan Atta, setiap orang tua memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa parenting islami yang diterapkan berfokus pada ketauhidan sejak dini.
“Karena mungkin ayahnya saking cintanya sama anaknya, Allah ingin mengingatkan bahwa tidak boleh ada yang lebih dicintai selain Allah SWT,” jelasnya kepada sang buah hati. Atta menambahkan bahwa kecintaan manusia terhadap orang tua, anak, maupun harta benda seperti barang-barang mewah, tidak boleh mengalahkan pengabdian kepada Tuhan.
Penjelasan ini bertujuan agar Ameena dan Azura tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati dan menyadari bahwa segala sesuatu yang mereka miliki hanyalah titipan sementara. Atta bersyukur bahwa meski masih sangat muda, anak-anaknya tampak mulai memahami esensi dari percakapan mendalam tersebut.
Petualangan Berburu Hewan Kurban ke Pelosok
Tak hanya lewat kata-kata, Atta Halilintar juga mengajak anak-anaknya melakukan aksi nyata dengan mencari hewan kurban secara langsung. Ia sengaja tidak memilih cara yang praktis, melainkan membawa keluarganya menempuh perjalanan yang cukup menantang menuju peternakan di area pinggiran yang cukup jauh dari pusat kota.
“Tadi jalannya lumayan jauh. Estimasi di navigasi awalnya hanya satu jam, tapi ternyata realitanya sampai dua jam perjalanan. Jadi pulang pergi bisa memakan waktu 3 sampai 4 jam,” ungkapnya. Perjalanan yang melelahkan ini dianggap Atta sebagai bagian dari perjuangan atau effort dalam beribadah. Ia ingin anak-anaknya merasakan sendiri bagaimana proses memilih hewan terbaik dari kandang-kandang peternak langsung.
Pengalaman masuk ke perkampungan dan berinteraksi langsung dengan lingkungan peternakan memberikan warna tersendiri bagi Ameena dan Azura. Atta percaya bahwa pengalaman sensorik seperti mencium bau rumput, melihat hewan secara dekat, dan merasakan suasana pedesaan akan membekas lebih kuat dalam memori mereka dibandingkan sekadar melihat dari layar gawai.
Kegembiraan Berinteraksi Langsung dengan Hewan
Selama berada di lokasi peternakan, antusiasme kedua cucu dari Anang Hermansyah dan Krisdayanti tersebut terlihat sangat tinggi. Tidak ada rasa takut yang diperlihatkan; sebaliknya, mereka justru terlihat ceria saat berkesempatan memberi makan sapi dan kambing yang ada di sana.
“Wah, mereka happy banget. Ikut memberi makan sapi dan kambing secara langsung. Momen seperti ini yang nantinya insyaallah akan menumbuhkan keinginan mereka untuk selalu berbagi kepada sesama,” tambah Atta. Baginya, interaksi ini adalah bentuk latihan empati. Dengan menyayangi hewan, anak-anak diajarkan untuk memiliki kasih sayang terhadap makhluk hidup sebelum akhirnya mereka memahami konsep pengurbanan yang lebih besar.
Keistimewaan Bulan Zulhijah dan Puasa Arafah
Di tengah kesibukannya sebagai figur publik, Atta Halilintar juga tidak lupa mengingatkan keluarganya tentang kemuliaan bulan Zulhijah. Ia menyinggung soal keutamaan ibadah-ibadah sunnah yang mengiringi momentum kurban, salah satunya adalah puasa Arafah.
“Katanya kalau kita menjalankan puasa Arafah, dosa-dosa kita setahun yang lalu dan tahun yang akan datang insyaallah akan diampuni. Bulan ini benar-benar luar biasa penuh keberkahan,” tuturnya. Hal ini menunjukkan bahwa komitmen Atta dalam beragama tidak hanya berhenti pada ritual kurban saja, tetapi juga mencakup peningkatan kualitas spiritual secara menyeluruh bagi anggota keluarganya.
Melibatkan Anak dalam Proses Pasca-Penyembelihan
Meskipun sudah sangat aktif melibatkan anak-anaknya sejak dini, Atta memiliki batasan tersendiri terkait apa yang boleh disaksikan oleh Ameena dan Azura. Ia merasa bahwa untuk saat ini, menyaksikan langsung proses penyembelihan hewan kurban mungkin belum saatnya bagi anak-anak seusia mereka.
Namun, ia sudah merencanakan peran lain untuk buah hatinya. Atta lebih memilih untuk melibatkan mereka dalam proses pasca-penyembelihan, seperti merawat hewan sebelum hari H atau yang paling penting adalah saat pendistribusian daging kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Mungkin kalau proses penyembelihannya belum ya. Tapi lebih ke momen saat merawat kambing atau sapinya, dan terutama saat membagi-bagikan dagingnya ke warga. Mereka harus merasakan pengalaman berbagi itu secara langsung,” pungkasnya. Dengan cara ini, Atta berharap Ameena dan Azura tidak hanya mengenal Idul Adha sebagai hari raya makan besar, tetapi sebagai hari di mana kepedulian sosial dan cinta kepada Tuhan menyatu dalam satu harmoni ibadah yang indah.
Melalui langkah-langkah kecil namun konsisten ini, Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah berupaya membangun fondasi iman yang kokoh bagi anak-anak mereka, menjadikan nilai-nilai spiritualitas sebagai kompas utama dalam menjalani kehidupan di tengah hiruk-pikuk dunia modern.