Strategi Jitu Membangun Bisnis dari Nol: 5 Pesan Penting Dirut BRI Hery Gunardi untuk Calon Pengusaha Sukses
RadarLokal — Memulai sebuah langkah di dunia wirausaha sering kali diibaratkan seperti terjun ke hutan belantara yang penuh dengan ketidakpastian. Namun, bagi mereka yang memiliki peta dan kompas yang tepat, tantangan tersebut justru menjadi peluang emas untuk meraih kesuksesan finansial yang berkelanjutan. Dalam sebuah kesempatan berharga di acara Jogja Financial Festival yang digelar di Jogja Expo Center, Daerah Istimewa Yogyakarta, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, membagikan resep rahasia bagi siapa saja yang ingin merintis usaha dari titik nol.
Hery Gunardi, sosok yang telah lama malang melintang di dunia perbankan tanah air, menekankan bahwa membangun bisnis bukan sekadar soal modal besar, melainkan tentang ketajaman strategi dan disiplin dalam pengelolaan. Dalam sesi Education Class yang dihadiri oleh ratusan peserta tersebut, ia menggarisbawahi lima pilar utama yang harus dipahami oleh calon pengusaha agar bisnis mereka tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga mampu berekspansi di tengah persaingan pasar yang semakin kompetitif.
1. Memilih Pintu Masuk dengan Hambatan Rendah
Salah satu kesalahan umum yang sering dilakukan oleh pengusaha pemula adalah mencoba masuk ke industri yang terlalu kompleks dengan modal yang sangat besar di awal. Hery menyarankan agar calon pelaku usaha memulai dengan memilih sektor yang memiliki entry barrier atau hambatan masuk yang tidak terlalu tinggi. Hal ini bertujuan agar risiko kegagalan di tahap awal dapat diminimalisir dan proses adaptasi bisa berjalan lebih cepat.
“Saya ini seorang profesional, dan mungkin sudut pandang saya bisa berbeda dengan yang lain. Namun, saran saya, jika Anda benar-benar baru ingin memulai, carilah industri yang tidak terlalu sulit untuk dimasuki,” ujar Hery. Dengan memilih sektor yang ramah bagi pemula, Anda memiliki ruang untuk belajar tanpa harus terbebani oleh regulasi yang rumit atau persaingan yang sudah terlalu jenuh. Mencari peluang usaha yang sesuai dengan kapasitas diri adalah langkah awal yang sangat krusial.
2. Riset Mendalam dan Mengenali Raksasa Industri
Setelah menentukan sektor yang akan ditekuni, langkah selanjutnya adalah memahami medan tempur. Hery menekankan pentingnya bagi seorang pengusaha untuk melakukan riset pasar yang komprehensif. Anda tidak bisa terjun dengan mata tertutup; Anda harus tahu siapa lawan dan kawan di industri tersebut. Memahami ekosistem pasar akan memberikan Anda gambaran tentang posisi bisnis Anda nantinya.
“Anda harus tahu siapa pemain utamanya? Siapa pesaing terberat Anda? Siapa yang saat ini memegang pangsa pasar terbesar?” tegasnya. Menurut Hery, belajar dari kesuksesan orang lain adalah cara tercepat untuk maju. Dengan menganalisis mengapa sebuah bisnis bisa menjadi besar dan apa rahasia di balik kemajuan mereka, kita dapat mengadopsi strategi bisnis yang serupa namun dengan sentuhan inovasi yang berbeda.
3. Disiplin Keuangan: Memisahkan Dompet Pribadi dan Bisnis
Inilah masalah klasik yang sering membuat UMKM di Indonesia sulit naik kelas: manajemen keuangan yang berantakan. Banyak pengusaha yang mencampurkan uang untuk keperluan dapur rumah tangga dengan modal usaha. Akibatnya, arus kas menjadi tidak jelas, dan pengusaha tidak tahu pasti apakah mereka sedang untung atau justru sedang merugi.
Hery menjelaskan bahwa akuntabilitas finansial harus dimulai sejak usaha masih berskala kecil. “Catatan belanja individu dan belanja usaha harus dipisah secara tegas. Banyak yang gagal berkembang karena uang hasil jualan langsung dipakai untuk kebutuhan sehari-hari tanpa dicatat,” jelasnya. Dengan memiliki sistem manajemen keuangan yang rapi, Anda dapat memantau kesehatan bisnis secara transparan dan mengambil keputusan berdasarkan data yang akurat.
4. Menjaga Napas Bisnis Lewat Arus Kas (Cash Flow)
Dalam dunia bisnis, ada istilah bahwa ‘Profit is Queen, but Cash is King’. Sebuah usaha mungkin terlihat menguntungkan di atas kertas, namun jika arus kasnya macet, bisnis tersebut bisa bangkrut dalam sekejap. Hery mengingatkan bahwa enam bulan pertama adalah masa kritis di mana pengusaha harus benar-benar menjaga ketersediaan uang tunai.
Sering kali, bisnis terhenti karena perputaran uang yang tidak lancar, misalnya akibat memberikan tempo piutang yang terlalu lama kepada pelanggan sementara kewajiban kepada pemasok harus segera dibayar. “Potensi bisnisnya bagus, tapi kalau uangnya macet di pelanggan, Anda akan kehabisan napas karena kas tidak cukup untuk operasional harian,” kata Hery. Menjaga likuiditas adalah kunci agar operasional tetap berjalan meski kondisi ekonomi sedang fluktuatif.
5. Transformasi Digital untuk Efisiensi dan Jangkauan Luas
Di era serba digital seperti sekarang, menutup mata terhadap teknologi adalah sebuah langkah mundur. Hery mendorong para pengusaha untuk memanfaatkan kemajuan teknologi guna menekan biaya operasional sekaligus memperluas jangkauan pasar. Penggunaan platform digital bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan bagi siapa saja yang ingin bersaing di level yang lebih tinggi.
“Gunakan teknologi untuk menurunkan variable cost. Anda bisa berjualan melalui TikTok, Instagram, atau platform e-commerce lainnya. Lakukan inovasi dari sisi digital untuk menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa harus mengeluarkan biaya promosi yang membengkak,” pungkasnya. Dengan melakukan transformasi digital, bisnis kecil sekalipun memiliki kesempatan yang sama untuk terlihat profesional dan kredibel di mata pelanggan global.
Kesimpulan: Konsistensi Adalah Kunci
Membangun bisnis memang bukan pekerjaan semalam. Dibutuhkan ketekunan, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar dari kesalahan. Tips yang dibagikan oleh Bos BRI ini memberikan fondasi yang kuat bagi siapa pun yang ingin serius bergelut di dunia wirausaha. Dengan memadukan antara pemilihan industri yang tepat, riset pasar, disiplin finansial, penjagaan arus kas, dan pemanfaatan teknologi, jalan menuju kesuksesan akan terbuka lebih lebar.
Bagi Anda yang saat ini sedang merencanakan untuk membuka usaha, mulailah dengan langkah kecil namun konsisten. Ingatlah bahwa setiap perusahaan besar yang kita lihat hari ini, dulunya dimulai dari sebuah ide kecil yang dikelola dengan manajemen yang baik. Dukungan terhadap pengembangan UMKM akan terus menjadi fokus utama perbankan nasional guna memperkuat ekonomi kerakyatan di masa depan.