Langkah Persuasif Rano Karno: Menata Kembali Masa Depan Korban Kebakaran Kemayoran di Hunian Vertikal

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
02 Jun 2026, 14:12 WIB
Langkah Persuasif Rano Karno: Menata Kembali Masa Depan Korban Kebakaran Kemayoran di Hunian Vertikal

RadarLokal — Asap hitam yang menyelimuti langit Kemayoran beberapa hari lalu kini telah berganti menjadi kepulan debu dari sisa-sisa reruntuhan bangunan yang menghitam. Di tengah puing-puing yang masih menyisakan bau sangit, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, melangkah masuk ke jantung pemukiman Kebon Kosong, Jakarta Pusat. Kehadirannya bukan sekadar seremoni peninjauan biasa, melainkan membawa misi besar tentang transformasi hidup bagi warga yang baru saja kehilangan segalanya dalam amukan si jago merah.

Dalam kunjungannya yang berlangsung pada Selasa (2/6/2026), Rano Karno tidak hanya melihat kerugian material yang menimpa warga. Ia mencoba menyelami sisi psikologis dan emosional masyarakat yang terdampak. Kebakaran di Jakarta memang seringkali menyisakan trauma mendalam, namun bagi Rano, peristiwa di Kebon Kosong ini harus menjadi momentum titik balik bagi penataan kota yang lebih manusiawi dan aman.

Baca Juga Terobosan KPK: Dorong Pembentukan PTSP Pusat Demi Pangkas Birokrasi dan Celah Korupsi
Terobosan KPK: Dorong Pembentukan PTSP Pusat Demi Pangkas Birokrasi dan Celah Korupsi

Tragedi di Kebon Kosong: Lebih dari Sekadar Angka

Data sementara yang dihimpun oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggambarkan betapa dahsyatnya musibah ini. Tercatat sebanyak 304 bangunan ludes terbakar, meninggalkan duka bagi 354 kepala keluarga atau sekitar 679 jiwa. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; mereka adalah potret nyata dari ratusan nyawa yang kini terpaksa berlindung di bawah tenda darurat.

Rano menyadari bahwa memindahkan warga dari zona rawan kebakaran ke tempat yang lebih layak bukanlah perkara mudah. Ada ikatan batin yang kuat antara warga dengan tanah kelahiran mereka. Namun, ia menegaskan bahwa keselamatan nyawa harus berada di atas segalanya. Melalui pendekatan yang persuasif, Rano mulai mengajak warga untuk mempertimbangkan opsi tinggal di rumah susun (rusun) sebagai solusi hunian jangka panjang.

Baca Juga Momen Hangat Mubes V Kosgoro: Ketika Bahlil Lahadalia ‘Salfok’ Gara-Gara Lagu Mas Bahlil Ganteng
Momen Hangat Mubes V Kosgoro: Ketika Bahlil Lahadalia ‘Salfok’ Gara-Gara Lagu Mas Bahlil Ganteng

Filosofi ‘Ari-Ari’ dan Dilema Emosional Warga

Satu momen menarik terekam saat Rano berdialog langsung dengan para korban di lokasi pengungsian. Ia mendengarkan keluh kesah mereka yang enggan berpindah ke rusun meskipun kondisi lingkungan lama mereka sangat padat dan rawan bencana. Alasan yang dikemukakan warga sangatlah kultural dan emosional.

“Tadi sambil lalu saya ngomong dengan beberapa warga, ‘enggak mau coba di rumah susun?’. Mereka bilang, ‘Aduh Bang, kita lahir di sini Bang, bahkan yang namanya ari-ari kita ditanam di sini’,” ungkap Rano menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan warga setempat. Ungkapan tersebut mencerminkan betapa kuatnya akar budaya masyarakat Betawi dan warga Jakarta pada umumnya terhadap tanah tempat mereka dibesarkan.

Baca Juga Tragedi Berdarah di Balik Topeng Jenaka: Kronologi Lengkap Pria di Mojokerto Tega Habisi Mertua dan Aniaya Istri
Tragedi Berdarah di Balik Topeng Jenaka: Kronologi Lengkap Pria di Mojokerto Tega Habisi Mertua dan Aniaya Istri

Namun, Rano yang juga memiliki latar belakang sebagai putra asli daerah tidak tinggal diam. Ia mencoba memberikan perspektif baru dengan berbagi latar belakang pribadinya yang serupa. Sebagai sosok yang besar di lingkungan Kemayoran, ia memahami betul sentimen tersebut, namun ia juga mengajak warga untuk berpikir realistis demi masa depan generasi berikutnya.

Kemayoran di Mata Rano Karno: Antara Tradisi dan Keselamatan

“Saya bilang, ‘Eh saya lahir di Kemayoran, di Kepu. Ari-ari saya juga saya tanam di Kemayoran. Masa kita mau berjubel-jubel tinggal di sini?'” tegas Rano. Argumen ini ia sampaikan untuk mematahkan stigma bahwa pindah ke rusun berarti memutus ikatan sejarah dengan tanah kelahiran. Bagi Rano, memuliakan tempat kelahiran tidak harus dilakukan dengan cara membiarkan diri tinggal dalam risiko bahaya yang terus mengintai.

Baca Juga Selamat Jalan Sang Prajurit Sejati: Mengenang Jejak Pengabdian Jenderal Ryamizard Ryacudu bagi Indonesia
Selamat Jalan Sang Prajurit Sejati: Mengenang Jejak Pengabdian Jenderal Ryamizard Ryacudu bagi Indonesia

Ia menekankan bahwa Rano Karno ingin mengubah mindset masyarakat bahwa rusun bukanlah tempat yang ‘tidak layak’. Sebaliknya, pemerintah provinsi berupaya menyediakan hunian vertikal yang memiliki fasilitas lengkap, sanitasi yang baik, dan yang terpenting, standar keamanan kebakaran yang jauh lebih mumpuni dibandingkan pemukiman padat penduduk.

Penyebab Utama Kebakaran: Tantangan Instalasi Listrik

Dalam kesempatan yang sama, Rano juga menyinggung fakta lapangan yang memprihatinkan mengenai penyebab kebakaran di Jakarta. Berdasarkan evaluasi berkala, hampir 95 persen kebakaran di ibu kota dipicu oleh korsleting listrik atau hubungan arus pendek. Pemukiman padat seperti di Kebon Kosong seringkali memiliki instalasi listrik yang tidak beraturan dan sudah berusia tua.

Baca Juga Menguak Peran Heri Black: Jejak Kasus Korupsi Importasi Bea Cukai yang Menggurita
Menguak Peran Heri Black: Jejak Kasus Korupsi Importasi Bea Cukai yang Menggurita

Kondisi ini diperparah dengan akses jalan yang sempit, yang menyulitkan petugas pemadam kebakaran untuk menjangkau titik api dengan cepat. Dengan pindah ke rumah susun, risiko-risiko teknis seperti ini dapat diminimalisir secara signifikan karena sistem kelistrikan di gedung vertikal dikelola secara profesional dan diawasi ketat oleh pengelola.

Penanganan Darurat di Lapangan Yusuf Hamka

Sembari menunggu solusi jangka panjang diputuskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah bergerak cepat memberikan bantuan darurat. Fokus utama saat ini adalah memastikan kebutuhan dasar para penyintas terpenuhi di posko pengungsian yang dipusatkan di Lapangan Yusuf Hamka.

Fasilitas di pengungsian tersebut meliputi:

  • Layanan kesehatan 24 jam untuk memantau kondisi fisik warga.
  • Dapur umum yang menyediakan makanan bergizi setiap hari.
  • Distribusi logistik berupa pakaian, selimut, dan perlengkapan bayi.
  • Dukungan psikologis (trauma healing) untuk membantu warga, terutama anak-anak, pulih dari keterkejutan mental akibat musibah.

Komitmen Anggaran dan Pembangunan Kembali

Terkait aspirasi warga yang ingin membangun kembali rumah mereka di lokasi yang sama, Rano memberikan penjelasan yang hati-hati. Ia menyatakan bahwa pemerintah akan melakukan pendataan dan pembahasan lebih mendalam terlebih dahulu. Tidak menutup kemungkinan akan ada bantuan anggaran, namun bentuknya masih dalam tahap pengkajian agar sejalan dengan aturan tata ruang kota.

“Kalau membantu bangun rumah kan relatif, tapi membantu anggaran pasti. Itu nanti kita bicarakan,” pungkasnya. RadarLokal mencatat bahwa langkah ini menunjukkan sikap pemerintah yang tetap ingin mendengarkan aspirasi warga tanpa mengabaikan aspek legalitas dan keamanan tata kota.

Tragedi di Kebon Kosong ini kembali menjadi pengingat keras bagi semua pihak. Penataan pemukiman di Jakarta bukan sekadar soal estetika, melainkan soal keberlangsungan hidup manusia. Pemprov DKI di bawah kepemimpinan para pejabatnya terus berupaya agar tidak ada lagi air mata yang tumpah akibat amukan api yang sebenarnya bisa dicegah melalui perencanaan hunian yang lebih modern dan aman.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *